Ayah, Anak Perempuan, dan Nyala Api Unggun: Mencari Dekat di Tengah Jauh
12 Mei 2025 — Di tengah sunyi malam dan gemerisik dedaunan, Budi (45) dan putrinya, Sekar (11), duduk berdampingan di depan api unggun yang mulai mengecil. Cahaya temaram menari di wajah mereka. Tak banyak kata, tapi kebersamaan itu terasa penuh.
“Di rumah, saya sering kejar-kejaran sama kerjaan. Kadang cuma sempat tanya, ‘Udah makan?’” kata Budi pelan. “Tapi di sini, saya baru tahu Sekar suka gambar bintang dan tahu nama-nama rasi.”
Budi adalah peserta Father & Daughter Camp, kegiatan camping dua hari yang digagas oleh komunitas Langkah Dua. Program ini didesain khusus untuk mempererat hubungan ayah dan anak perempuan—relasi yang kerap canggung saat anak mulai tumbuh besar.
Menurut Dimas Wicaksono, fasilitator program, banyak ayah merasa kikuk saat berhadapan dengan dunia batin anak perempuannya. “Di rumah, hubungan mereka kadang formal. Tapi di sini, mereka belajar mengenal lagi, bukan sebagai orang tua dan anak, tapi sebagai dua manusia yang saling ingin dekat.”
Di tengah alam bebas, kegiatan dilakukan berpasangan: membuat tenda, menyalakan api unggun, hingga menggambar langit malam di atas kain kanvas. Tak ada sinyal, tak ada notifikasi. Yang ada hanya waktu dan percakapan.
“Saya diajak masak bareng, terus bikin surat buat ayah yang nanti dibacain malam-malam. Awalnya malu, tapi ternyata bikin haru,” ujar Sekar, tersenyum.
Psikolog anak dan keluarga, Nani Rahmalia, menyebut bahwa anak perempuan membutuhkan kehadiran emosional ayah sebagai pijakan dalam membentuk kepercayaan diri. “Kedekatan ayah-anak perempuan bukan soal seberapa sering bertemu, tapi seberapa hadir dan terbuka komunikasinya,” jelasnya.
Salah satu momen paling menyentuh adalah sesi “Ngobrol Jujur”—di mana anak dan ayah saling mengungkapkan hal-hal yang jarang diutarakan. Beberapa menangis, beberapa tertawa. Tapi semuanya merasa lega.
“Sekar bilang dia sering nunggu saya pulang cuma buat cerita kejadian di sekolah. Saya baru sadar, kadang saya terlalu sibuk sampai lupa, dia juga lagi belajar memahami dunia,” ujar Budi.
Setelah acara usai, banyak ayah berniat melanjutkan ritual kecil di rumah: memasak bersama, menulis surat, atau sekadar duduk di teras sambil memandangi langit.
Karena bagi anak perempuan, sosok ayah bukan hanya pelindung. Ia adalah tempat pulang, bahkan ketika dunia sedang gaduh.
Dan di balik nyala api unggun malam itu, dua hati yang semula jauh, kembali menemukan arah—bukan lewat peta, tapi lewat rasa.

Komentar
Posting Komentar