Bisnis Sewa Camping Keliling Lesu, Pelaku Usaha Gulung Tikar
asa penyewaan alat camping yang dulu sempat menjamur kini mulai tumbang satu per satu. Menurunnya tren berkemah berdampak langsung pada para pelaku usaha mikro yang mengandalkan sewa tenda dan perlengkapan outdoor.
Dulu, mobil pickup penuh tenda dan peralatan camping mudah ditemui di sekitar kawasan wisata alam. Kini, bisnis sewa alat camping keliling itu nyaris menghilang. Turunnya minat masyarakat terhadap kegiatan berkemah membuat banyak pelaku usaha mikro ini terpaksa gulung tikar.
“Dulu tiap akhir pekan saya keliling bawa tenda ke Cidahu, Cibodas, sampai ke Ranca Upas. Sekarang nggak ada panggilan, motor saya jadi ojek online,” ujar Dadan Wibowo, mantan penyewa alat camping keliling asal Sukabumi.
Dadan menyebutkan bahwa sejak 2022, permintaan sewa perlengkapannya menurun drastis. Selain karena minat camping yang turun, persaingan dengan glamping yang menawarkan fasilitas siap pakai membuat penyewaan alat menjadi tidak lagi relevan bagi banyak wisatawan.
Senada dengan Dadan, Tika Nurhaliza, pemilik akun Instagram @SewaCampingJaksel, mengaku sudah tak aktif lagi menawarkan jasanya. “Biasanya jelang akhir pekan rame yang DM mau sewa nesting, sleeping bag, atau flysheet. Sekarang paling seminggu cuma satu-dua yang nanya, itu pun nggak jadi,” ujarnya.
Bisnis ini sebelumnya menjanjikan karena fleksibel dan bisa dijalankan dari rumah. Modalnya relatif kecil dan banyak pelaku usaha yang menjalankannya secara pribadi tanpa toko fisik. Namun, tren gaya liburan yang berubah cepat menyebabkan banyak di antaranya kesulitan bertahan.
Menurut data Komunitas Sewa Outdoor Jakarta, lebih dari 60% anggotanya menghentikan operasional sejak awal 2023. Sebagian beralih ke usaha lain, sebagian lagi menjual perlengkapan dengan harga murah karena tak lagi produktif.
Pengamat gaya hidup outdoor, Rendi Maulana, menyebut fenomena ini sebagai "pukulan pelan tapi dalam". “Lesunya sewa alat camping menandakan rantai ekonomi mikro outdoor benar-benar terguncang. Aktivitasnya menurun, dan dampaknya langsung ke sektor paling bawah,” katanya.
Jika tren ini berlanjut, bukan hanya alat-alat yang menganggur, tapi juga semangat petualangan yang perlahan menghilang dari keseharian generasi muda. Dan ketika alat-alat itu tak lagi disewa, bukan tak mungkin mereka akan berakhir jadi tumpukan barang rongsokan di rumah para pegiatnya.

Komentar
Posting Komentar