Camping Anti-Mainstream, Tren Baru Penikmat Alam yang Cari Tantangan
Tren camping kini merambah ke lokasi-lokasi yang tak biasa. Alih-alih tempat populer, para pencinta alam mulai berburu spot anti-mainstream yang lebih sepi, alami, dan penuh tantangan baru untuk dijelajahi.
Semakin padatnya pengunjung di lokasi camping populer seperti Ranca Upas dan Gunung Bromo, membuat sebagian pencinta alam memilih untuk mencari alternatif yang lebih tenang dan belum banyak terjamah. Fenomena ini melahirkan tren baru: camping di tempat anti-mainstream.
Lokasi-lokasi seperti hutan perawan di daerah Cianjur Selatan, tepi jurang di Pegunungan Menoreh, hingga pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu mulai ramai dikunjungi oleh para petualang yang menginginkan suasana berbeda. Mereka mencari kesunyian, keaslian alam, serta sensasi "back to basic" yang lebih menantang.
“Camping sekarang bukan cuma soal healing, tapi juga soal eksplorasi. Tempat yang jarang diketahui orang justru lebih menarik buat kami,” ujar Rizky Pratama (28), pendaki sekaligus anggota komunitas Alam Liar Nusantara, saat ditemui di acara diskusi outdoor gear di Jakarta, Sabtu (3/5).
Rizky menyebut bahwa camping di tempat anti-mainstream memberi kepuasan tersendiri. “Nggak ada suara speaker tetangga tenda, nggak ada warung. Semua serba alami. Tapi, ya, butuh persiapan ekstra dan pengetahuan survival juga,” tambahnya.
Hal ini turut diamini oleh Nur Fadilah (31), traveler yang rutin membagikan rekomendasi lokasi camping di akun media sosialnya. Menurutnya, minat terhadap spot camping unik mulai meningkat sejak pandemi.
“Orang-orang jenuh dengan keramaian. Mereka cari tempat di mana bisa benar-benar lepas dari hiruk-pikuk, bahkan dari sinyal ponsel. Banyak yang tanya ke saya, ‘Ada nggak tempat camping yang belum banyak orang tahu?’,” ujar Fadilah.
Namun, tren ini juga memunculkan tantangan baru, terutama soal keamanan dan dampak lingkungan. Kepala Subdirektorat Wisata Alam Kementerian Pariwisata, Dedi Supriyadi, mengingatkan pentingnya edukasi bagi para pelaku wisata.
“Kami mendorong agar komunitas outdoor aktif memberikan informasi tentang keamanan dan etika camping di alam liar. Jangan sampai karena tempatnya tersembunyi, pengunjung jadi lalai dan merusak ekosistem,” tegasnya.
Meski demikian, tren ini dinilai positif jika dibarengi dengan tanggung jawab. Camping di tempat anti-mainstream membuka peluang pariwisata baru, sekaligus mendidik masyarakat untuk lebih menghargai keaslian dan keseimbangan alam.

Komentar
Posting Komentar