Camping Dulu dan Kini: Dari Bertahan Hidup hingga Pamer Estetika
Camping bukan lagi sekadar petualangan di alam terbuka. Jika dulu kegiatan ini erat dengan tantangan fisik dan minim fasilitas, kini camping menjelma jadi aktivitas gaya hidup yang penuh kenyamanan dan estetika visual.
Berbekal tenda sederhana, kompor minyak tanah, dan senter kecil, generasi 90-an menjadikan camping sebagai ajang pengujian mental dan fisik. Tidur beralaskan matras tipis, makan mie instan, hingga harus rela antre ke sungai untuk sekadar mandi—itulah gambaran camping zaman dulu. Kini, pemandangan itu berubah drastis.
Tenda besar bergaya glamping lengkap dengan kasur empuk, selimut hangat, lampu tumblr, hingga kopi susu kekinian menjadi pemandangan umum di banyak area camping saat ini. Bahkan, beberapa lokasi menyediakan jaringan Wi-Fi dan colokan listrik. Bukan hanya tentang kembali ke alam, camping kini juga tentang menciptakan konten.
“Camping dulu itu soal bertahan hidup. Kita belajar mandiri, kerja sama tim, dan mengandalkan apa yang ada. Sekarang, camping lebih ke pengalaman visual dan kenyamanan,” ujar Eko Widodo (54), mantan anggota Mapala yang telah mendaki lebih dari 30 gunung di Indonesia, saat ditemui di kawasan Cibodas, Bogor, Sabtu (4/5).
Eko mengaku menikmati tren baru ini, namun tetap menyayangkan bahwa banyak nilai-nilai dasar camping yang mulai dilupakan. “Dulu kita diajari etika alam, mulai dari cara mendirikan tenda hingga prinsip ‘leave no trace’. Sekarang banyak yang cuma fokus ke konten estetik, tapi buang sampah sembarangan,” tambahnya.
Transformasi ini tentu tidak lepas dari perkembangan teknologi dan gaya hidup digital. Peralatan camping kini jauh lebih ringan dan multifungsi. Bahkan, ada tenda otomatis yang hanya butuh waktu lima menit untuk berdiri sempurna. Perlengkapan memasak pun sudah menggunakan bahan hemat energi dan bisa dibawa dalam ukuran mini.
Di sisi lain, perubahan juga dipengaruhi oleh persepsi generasi muda terhadap alam. Aurel Mayasari (26), seorang konten kreator di bidang travel, melihat camping sebagai bentuk “healing” yang menyenangkan dan tetap fashionable.
“Buat aku, camping nggak harus ribet atau kotor-kotoran. Justru seru kalau kita bisa menikmati alam dengan nyaman. Dan kalau tempatnya bagus, sekalian bisa buat konten,” ujar Aurel saat diwawancarai melalui sambungan video call.
Aurel, yang rutin mengunggah pengalaman camping di Instagram dan TikTok, menyebut bahwa visual memang menjadi daya tarik utama. “Kalau spot-nya Instagramable, pasti banyak yang tertarik datang. Sekarang juga banyak camping ground yang sadar akan hal ini. Mereka dekor tempatnya supaya estetik banget,” tambahnya.
Namun, ada kekhawatiran bahwa tren ini bisa mengaburkan makna camping sebagai bentuk koneksi langsung dengan alam dan diri sendiri. Hal ini diamini oleh Aditya Putra, dosen Ekowisata di salah satu universitas negeri di Jawa Barat.
“Tren camping kekinian memang membawa dampak positif dalam hal pariwisata dan ekonomi lokal. Tapi kita tidak boleh melupakan aspek edukasi lingkungan. Ketika camping hanya jadi gaya hidup, ada potensi nilai konservasi dan tanggung jawab ekologis terpinggirkan,” jelas Aditya.
Ia menambahkan bahwa idealnya, camping modern bisa tetap menyenangkan tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan. “Pengelola tempat camping dan influencer seharusnya bisa mengedukasi audiensnya tentang etika alam. Mulai dari membawa kembali sampah, tidak merusak tanaman, hingga menghormati satwa liar,” tegasnya.
Meski berbeda wajah, pada akhirnya baik camping dulu maupun sekarang tetap menawarkan hal yang sama: ketenangan dan keindahan alam. Perbedaannya terletak pada cara menikmatinya—yang satu penuh perjuangan, yang lain lebih santai dan nyaman.
Kini, tantangannya bukan hanya soal fisik, tapi soal bagaimana menjaga agar alam tetap lestari di tengah derasnya tren gaya hidup digital.

Komentar
Posting Komentar