Camping Jamu Hutan: Saat Alam Menjadi Sekolah Kehidupan
Bukan sekadar mendirikan tenda, puluhan peserta “Camping Jamu Hutan” di lereng Gunung Lawu justru sibuk meracik daun-daunan. Mereka belajar meramu jamu tradisional langsung dari sumbernya: hutan dan kearifan lokal.
Kabut tipis menyelimuti kawasan hutan lereng Gunung Lawu, Sabtu pagi (17/5). Di antara rimbunnya pepohonan, suara ketel mendidih bersahutan dengan tawa puluhan peserta “Camping Jamu Hutan”. Aktivitas utama mereka bukan berburu sunrise atau membuat kopi api unggun—melainkan belajar meramu jamu langsung dari alam.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Ramu Rimba ini menjadi alternatif camping yang menyegarkan sekaligus edukatif. Selama dua hari satu malam, peserta diajak mengenali tanaman obat, belajar meracik jamu sederhana, serta memahami filosofi pengobatan tradisional Jawa.
“Banyak dari kita minum jamu, tapi nggak tahu bentuk asli tanamannya di hutan. Di sinilah mereka belajar langsung dari sumbernya,” ujar Ditya Wibowo (34), pendiri Komunitas Ramu Rimba sekaligus fasilitator kegiatan.
Belajar dari Alam, Bukan Buku
Dalam sesi pembukaan, peserta dibekali ilmu dasar tentang identifikasi tanaman obat, cara memetik yang etis (tidak merusak lingkungan), hingga manfaat masing-masing jenis. Setelah itu, mereka diajak trekking pendek menyusuri hutan, mengumpulkan tanaman seperti kunyit liar, daun sambiloto, jahe merah, hingga lempung wuluh.
Para peserta lalu duduk melingkar di bawah pohon beringin tua, menyimak cerita dari Mbok Rumiyem (68), peramu jamu tradisional yang sudah berpraktik sejak usia belasan.
“Dulu, orang sakit itu nggak lari ke puskesmas dulu, tapi ke hutan. Di sinilah obat tumbuh. Tapi meramu bukan hanya soal bahan, tapi juga niat dan hati,” ujarnya sambil mengaduk rebusan daun pace.
Peserta kemudian mencoba meracik sendiri jamu sesuai keluhan masing-masing, seperti pegal linu, masuk angin, atau susah tidur. Aroma khas rempah dan kayu rebus memenuhi udara, menambah suasana akrab dan alami.
Jauh dari Gadget, Dekat dengan Diri Sendiri
Menariknya, selama camping berlangsung, peserta diminta mematikan ponsel dan menyimpan perangkat elektronik di kotak penyimpanan bersama. Tujuannya bukan hanya agar fokus, tapi juga memberi ruang untuk kontemplasi.
Sarah (26), peserta asal Jakarta yang sehari-hari bekerja di industri kreatif, mengaku ini pengalaman camping paling unik yang pernah ia ikuti.
“Biasanya camping itu foto-foto, api unggun, atau ngegrill sosis. Di sini, kita malah diajak mengenal tanaman, tubuh sendiri, dan ngobrol dari hati. Ajaib sih,” katanya.
Beberapa peserta mengaku awalnya skeptis dengan kegiatan yang terdengar “jadul” ini. Tapi setelah merasakan efek menenangkan dari minuman racikan sendiri dan tidur dengan aroma rempah, mereka berubah pikiran.
“Saya bawa pulang jamu racikan sendiri. Bukan hanya buat kesehatan, tapi juga kenangan,” ujar Rafi (32), peserta dari Surabaya.
Lebih dari Sekadar Wisata
Menurut Ditya, kegiatan ini bukan sekadar alternatif wisata, tapi juga upaya pelestarian budaya dan pengetahuan lokal yang terancam punah.
“Generasi muda makin jauh dari jamu. Padahal ini bagian dari identitas kita. Lewat camping ini, kami ingin merawat itu dengan cara menyenangkan,” jelasnya.
Program “Camping Jamu Hutan” sudah digelar tiga kali sejak 2023, dan selalu penuh peserta. Rencananya, Komunitas Ramu Rimba akan memperluas kegiatan ini ke wilayah lain seperti Merapi, Dieng, dan Kalimantan dengan melibatkan peramu jamu lokal.
Selain itu, komunitas ini juga tengah merintis “Pustaka Jamu Keliling”—mobil van yang berisi koleksi buku herbal dan alat racik jamu, yang akan mendatangi desa-desa sebagai bagian dari edukasi keliling.

Komentar
Posting Komentar