Camping Kian Sepi, Pegiat Alam: “Tinggal Tunggu Punah”
Aktivitas camping di alam terbuka makin ditinggalkan generasi muda. Sejumlah lokasi perkemahan sepi pengunjung dan mulai terbengkalai. Pegiat alam khawatir jika tren ini terus berlangsung, camping akan hilang dari budaya wisata lokal.
Kegiatan camping yang dulu ramai digelar sekolah, komunitas, dan keluarga, kini kian kehilangan pamor. Berbagai lokasi perkemahan di kawasan pegunungan dan hutan wisata mulai mengalami penurunan drastis jumlah pengunjung, bahkan sebagian besar tidak lagi difungsikan.
“Sepuluh tahun lalu, tiap akhir pekan tenda bisa belasan berdiri di sini. Sekarang, satu bulan belum tentu ada yang datang,” ujar Agus Prabowo, pengelola kawasan camping Bukit Tapak, Bogor, Jawa Barat.
Ia mengaku pendapatannya menurun lebih dari 70 persen sejak 2021. Menurutnya, minat generasi muda terhadap kegiatan alam sudah jauh bergeser. “Sekarang lebih senang ngopi di café, nonton konser, atau main TikTok. Camping dianggap repot dan nggak praktis,” lanjutnya.
Fenomena ini tak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga komunitas pecinta alam. Ketua Komunitas Jelajah Rimba Indonesia, Ratna Lestari, menyebutkan bahwa minat anggota barunya terhadap kegiatan camping turun drastis.
“Dulu hampir tiap bulan kami bikin trip camping. Sekarang, dari 30 orang, yang ikut cuma lima atau enam. Sisanya pilih staycation,” ujar Ratna. Ia menambahkan, camping memiliki nilai edukatif tinggi, mulai dari belajar mandiri, mengenal alam, sampai melatih kepemimpinan.
Sementara itu, Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor membenarkan adanya penurunan jumlah kunjungan ke area camping. “Kami sedang evaluasi. Mungkin ke depan akan dikembangkan konsep glamping atau camping digital agar lebih relevan dengan minat generasi sekarang,” kata Kepala Seksi Pengembangan Wisata Alam, Dini Arista.
Namun, Ratna mengingatkan bahwa mengganti camping dengan glamping bukanlah solusi menyeluruh. “Camping itu bukan soal fasilitas mewah, tapi soal kembali ke alam, belajar hidup sederhana. Kalau semuanya dimodifikasi, rohnya hilang,” tuturnya.
Para pegiat alam berharap ada dukungan konkret dari pemerintah, seperti promosi edukatif di sekolah dan kolaborasi dengan komunitas. Tanpa itu, camping dikhawatirkan hanya tinggal cerita nostalgia generasi terdahulu.

Komentar
Posting Komentar