Lahan Tidur Jadi Ladang Uang: Tren Camping di Kebun Warga Desa
Kebun singkong, pekarangan bambu, hingga lahan kosong di kaki gunung kini disulap jadi tempat camping eksklusif. Warga desa mendapat penghasilan baru tanpa harus merantau ke kota.
12 Mei 2025 — Sejak awal 2024, kebun milik Pak Sarno (58) di lereng Gunung Sumbing, Magelang, tak lagi hanya ditumbuhi pohon kopi dan pisang. Kini, saban akhir pekan, 3 hingga 5 tenda berdiri di antara pepohonan, dihuni wisatawan kota yang ingin “healing” di alam terbuka.
“Dulu lahan ini cuma saya biarkan. Sekarang bisa dapat Rp500 ribu sekali weekend dari sewa camping,” kata Sarno saat ditemui, Sabtu (10/5).
Fenomena ini disebut warga sebagai “kebun stay”, di mana pemilik lahan menyewakan pekarangan mereka untuk kegiatan berkemah. Tanpa banyak modal, mereka hanya perlu membersihkan area, menyediakan toilet sederhana, dan memastikan keamanan.
Tren ini bermula dari unggahan media sosial para pengunjung yang menyukai suasana sejuk, sunyi, dan jauh dari keramaian. Banyak dari mereka sengaja memilih lahan warga dibanding camping ground komersial yang sudah padat dan mahal.
“Saya lebih suka camping di kebun begini. Hening dan langsung ngobrol sama pemiliknya. Bisa pesan kopi asli dari kebun sebelah tenda,” ujar Rahma (28), wisatawan asal Semarang.
Menurut Kepala Desa Temanggung Barat, Amin Sutopo, ada lebih dari 20 warga yang kini membuka lahan pribadi mereka untuk camping. Pemerintah desa mendukung lewat pelatihan kecil soal keamanan, sanitasi, dan layanan wisata.
“Kami tidak ingin ini hanya musiman. Makanya kami dorong warga untuk tetap utamakan kenyamanan dan keselamatan,” ujarnya.
Namun, tren ini juga punya tantangan. Beberapa pengunjung dilaporkan meninggalkan sampah atau membuat api unggun sembarangan. Desa kini mempertimbangkan regulasi ringan dan sistem booking agar pengelolaan lebih tertib.
Pengamat pariwisata pedesaan dari UGM, Dr. Irma Widiastuti, menyebut tren ini sebagai bentuk ekonomi mikro yang bisa bertahan lama jika didampingi baik.
“Ini bukan hanya soal wisata, tapi redistribusi ekonomi yang nyata ke akar rumput. Ini harus dijaga,” katanya.
Komentar
Posting Komentar