Lengah di Alam, Jumlah Kecelakaan Camping Meningkat
Bandung, 27 Mei 2025 — Aktivitas camping yang kian populer dalam dua tahun terakhir ternyata diikuti dengan meningkatnya angka kecelakaan di lapangan. Badan SAR Nasional (Basarnas) Bandung mencatat setidaknya 26 insiden ringan hingga sedang yang terjadi selama Maret hingga Mei 2025 di kawasan wisata alam Jawa Barat.
“Mayoritas korban adalah pendaki atau camper pemula yang kurang memahami medan, tidak membawa peralatan lengkap, atau abai terhadap kondisi cuaca,” ujar Agus Mahendra, Kepala Operasi dan Siaga SAR Bandung, saat diwawancarai, Senin (26/5).
Beberapa kecelakaan yang dilaporkan termasuk cedera pergelangan kaki akibat jalur licin, hipotermia ringan, dan keracunan makanan. Lokasi dengan jumlah insiden tertinggi adalah di kawasan Gunung Papandayan, Cikole, dan Ranca Upas.
Minim Persiapan dan Peralatan Tak Memadai
Agus menyoroti kurangnya persiapan sebagai penyebab utama. Banyak peserta camping tidak membawa perlengkapan standar seperti sleeping bag tahan dingin, alas tidur, P3K, atau jas hujan.
“Saat malam, suhu bisa turun drastis. Tanpa sleeping bag yang layak, tubuh bisa kehilangan panas. Apalagi jika pakaian basah,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh Rendi Saputra (34), relawan komunitas Mapala setempat, yang kerap menemukan camper membawa barang seadanya.
“Pernah ada rombongan yang cuma bawa karpet tipis dan selimut kecil. Mereka pikir camping itu kayak piknik biasa. Padahal risikonya nyata,” ucapnya.
Upaya Edukasi dan Tindakan Preventif
Basarnas bersama beberapa komunitas pecinta alam kini tengah gencar melakukan kampanye edukasi camping aman melalui media sosial dan pelatihan langsung di basecamp wisata.
“Setiap akhir pekan kami adakan briefing singkat soal bahaya hipotermia, cara packing logistik, dan penggunaan alat darurat,” tambah Agus.
Ia berharap masyarakat tidak menganggap remeh aktivitas alam terbuka. “Camping memang menyenangkan, tapi tetap butuh disiplin dan kesadaran. Kesalahan kecil bisa berakibat besar.”
Penutup
Peningkatan minat pada camping sebagai gaya hidup alami perlu diimbangi dengan pemahaman risiko dan persiapan matang. Edukasi dan perlengkapan yang tepat bisa menjadi pembeda antara petualangan menyenangkan dan tragedi yang tak diinginkan.

Komentar
Posting Komentar