Sunyi yang Menguatkan: Solo Camping Perempuan Makin Diminati
Semakin banyak perempuan memilih camping sendirian sebagai bentuk perlawanan terhadap ketakutan dan tekanan hidup. Di tengah sepinya hutan, mereka belajar mengenal diri, berteman dengan sunyi, dan menemukan keberanian baru.
12 Mei 2025 — Saat langit mulai gelap di balik pepohonan Ujung Kulon, Sinta Rahayu (31) sedang sibuk menyalakan api kecil di depan tendanya. Bukan untuk ramai-ramai. Ia sedang solo camping — sendirian, jauh dari hiruk-pikuk kota, tanpa sinyal, tanpa keramaian.
“Dulu saya takut banget gelap, takut suara-suara hutan. Tapi sekarang, justru di sini saya merasa paling hidup,” katanya.
Sinta adalah bagian dari komunitas kecil bernama Perempuan Sunyi, kumpulan perempuan urban yang rutin melakukan solo camping. Tujuan mereka bukan sekadar wisata, tapi membangun kepercayaan diri dan mengatasi kecemasan dalam sunyi yang total.
“Saat kamu sendirian di alam, kamu nggak bisa lari dari dirimu sendiri. Itu yang bikin healing-nya terasa dalam,” lanjut Sinta.
Tren ini mulai muncul sejak pandemi mereda. Banyak perempuan muda mulai berani menjajal solo hiking dan camping, meski masih menghadapi stigma “bahaya”, “gila”, atau “nekat”.
Tapi justru itu yang mereka lawan. Bagi mereka, solo camping bukan aksi sembrono, tapi bentuk keberanian terstruktur: peralatan lengkap, rute terencana, dan pelatihan survival dasar.
“Ini bukan tentang menantang maut. Ini tentang merebut ruang yang dulu cuma milik laki-laki,” ujar Alya Maulida (27), anggota komunitas yang sudah camping sendiri di lima lokasi hutan di Jawa Barat.
Komunitas Perempuan Sunyi kini punya lebih dari 100 anggota aktif dan rutin berbagi pengalaman, tips keamanan, hingga lokasi yang relatif aman untuk solo camping perempuan.
Menurut aktivis pemberdayaan perempuan, Dita Kurnia, tren ini bukan sekadar gaya hidup baru. “Ini adalah bentuk ekspresi kebebasan dan penyembuhan. Perempuan belajar bahwa mereka bisa merasa aman dengan dirinya sendiri.”
Di tengah malam yang hanya berisi suara angin dan hewan malam, para perempuan ini menemukan ketenangan. Dan mungkin, di sanalah mereka paling berani: bukan karena tidak takut, tapi karena tetap berjalan meski takut.
Komentar
Posting Komentar